kembali.
bila waktu membawaku-
tuk menelisik pada jiwanya kemarin
kehilangan menjadi hal yang paling menakutkan
segala ketakutan yang menghantui diri,
ketakutan yang justru datang-
dari pikirannya sendiri
ia rajut segala kekhawatiran
membentuk berbagai macam pola cemas dan gelisah
yang perlahan menjerat langkahnya
seakan tak dapat bergerak kemana mana
langkahnya menjadi kian berat dan hilang arah
sebagian jiwanya telah pergi-
bersama dengan harapan harapan yang ia ciptakan
perasaannya kosong
seakan hidup yang ia jalani;tak bermakna
yang akhirnya pada suatu titik
waktu mulai mengambil peran
dengan perasaan se-ikhlas ikhlasnya menerima
dengan lantang ia meyakinkan
segala yang hilang akan terganti dan kembali
dengan berbagai macam bentuk, rupa, dan warna yang berbeda
hendaknya hati dapat selalu merasa cukup tuk menerima
serta merayakan dan merangkul
segala yang datang juga hilang
pun dengan lapang selalu menerima
bahwa pada dasarnya semua nantinya akan kembali,
dan kita hanya sedang menunggu giliran,
untuk kembali.
Comments
Post a Comment